Memperingati Hari Pendidikan di Era Generasi Milineal


Pernah ga sih kalian berfikir kenapa kita perlu memperingati suatu hari (?) kaya memperingati hari pendidikan, hari guru, hari kemerdekaan, hari buruh dan lain-lain. Oke anggeplah kalian udah punya pendapat masing-masing kenapa harus memperingati hari-hari “special” tersebut.

Kalo gue sih punya anggapan sendiri kenapa harus mempringati hari-hari tersebut. Alasan yang pertama karena untuk menghargai sejarah dan jasa orang-orang yang ada dibelakangnya (misal hari kemerdekaan, hari guru, dll) dan alasan yang kedua adalah untuk “mengingatkan” bahwa kondisi bangsa Indonesia masih jauh dari yang diharapkan (misal hari buruh, hari pendidikan dll).

Karna kebetulah hari ini tanggal 2 Mei yang berarti hari pendidikan, maka gue akan banyak membahas isu-isu pendidikan baik secara umum maupun khusus (di kampus sendiri). Pertama harus kita ketahui dahulu kenapa tanggal 2 Mei dijadikan hari pendidikan, itu karena untuk mempringati hari lahir Bapak Pendidikan di Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara. Ia banyak sekali berperan dalam pembangunan pendidikan di Indonesia salah satunya ia menjadi pendiri Taman Siswa yang didirikan pada 3 Juli 1922. Selain itu, Taman Siswa juga memiliki prinsip dasar yang dikenal dengan nama Patrap Triloka, yaitu :
  Ing ngarsa sung tulada (didepan memberi teladan)
 Ing madya mangun karsa (ditengah membangun kemauan)
Tut wuri handayani (dari belakang mendukung)

Patrap Triloka menjadi pedoman bagi dunia pendidikan di Indonesia khususnya bagi para guru. Namun kondisinya sekarang, pasti diantara kalian juga tidak asing dengan pemberitaan tentang kekerasan didunia pendidikan, baik itu yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya maupun sebaliknya. Adanya kejadian tersebut sangat disayangkan mengingat seharusnya pendidikan menjadi pedoman dan pondasi bagi seseorang untuk bertindak agar sesuai dengan norma dan kaidah yang ada.

Selain itu, muncul pula isu bahwa sistem pendidikan khususnya diperguruan tinggi ingin seperti yang diterapkan di Amerika. Entah ada apa dengan pemerintah yang ingin mengadopsi “student loan” untuk diterapkan di Indonesia. Secara tegas gue menolak adanya student loan, alasannya kenapa ? banyak banget alasan yang bisa gue kasih. Pertama, sistem pendidikan di Indonesia aja belum jelas dan belum paten, setiap ganti menteri ganti pula sistem pendidikannya. Dosen atau guru harus rapat lagi, bahas silabus lagi, dan yang pasti duit lagi. Sebenernya ga jadi masalah ganti menteri ganti sistemnya asalkan tujuannya memang baik, untuk mencari yang mana yang cocok bagi kondisi Indonesia sendiri,  toh dulu indonesia juga banyak menerapkam sistem pemerintahan agar mendapatkan yang cocok dan yang terbaik.

Alasan yang lain gue menentang student loan adalah mbok yak piye cah, negara yang udah nerapin dan juga penggagas student loan aja masi ribet. Bahkan banyak mahasiswanya yang udah lulus malah utangnya makin numpuk karna bunganya. Pendidikan yang seharusnya menjadi ujung tombak untuk membuat orang dapat hidup sejahtera malah bikin makin sengsara dan merana. Menurut gua dari dua alasan yang minim kajian ini udah cukup kuat untuk menentang student loan. Mungkin nanti atau kalian bisa buat kajian kalo emang si student loan ini tidak pantas untuk diadopsi ibu pertiwi

Hari pendidikan juga sebagai harinya mahasiswa, mereka biasanya akan mengadakan konsolidasi sebelumnya dan akan melakukan aksi ditanggal 2 mei. Biasanya isu-isu dan kajian yang akan dibawa ialah permasalahan yang ada di universitas masing-masing. Maka ga heran kalau mereka gaakan ketinggalan dengan momentum ini. Pun gua juga sama dulu tepatnya satu tahun yang lalu ikut aksi hari pendidikan dikampus UNS tercinta. Tapi yaa kayaknya follow up-nya pun akan sulit sekali.

Sekarang isu dan kajian yang dibawa pun gakalah keren dari tahun kemaren, seperti UKT, PTNBH, KKN, dan satu isu ini cukup bikin gua tertarik yaitu kenaikan UKT untuk anak SM (Seleksi Mandiri) ditahun ajaran baru. Mengingat gua juga anak SM yang merasa ukt gua murah meriah gemah ripah loh jinawi. Sampe dulu kalo ditanya “ukt mu berapa” dan selalu dibales denga “hah kok murah banget”. Mungkin nantinya gaakan ada balasan kata seperti itu lagi. Kenaikan UKT sendiri gua rasa merupakan imbas dari PTNBH, karena setau gua untuk univ yang ingin menjadi PTNBH salah satu syaratnya univ tersebut harus memiliki penghasilan minimal “sekian” dan salah satu cara yang paling mudah dan menjanjikan adalah menikan UKT. Isu bidikmisi dan sanggah UKT dihapus untuk anak yang masuk jalur SM pun semakin membuat miris keadaan pendidikan di era milineal ini.

Das sollen –nya pendidikan bisa semakin mudah diakses di era yang serba mudah ini tapi Das Sein –nya malah semakin mencengkik dan membuat sengsara. Jika mengambil konsep keadilan Plato dan Socrates bahwa untuk bisa mencapai keadilan harus ada kompromi dan bisa mencapai mufakat, maka kompromi dilakukan terlebih dahulu untuk bisa adil sesuai dengan kepentingan-kepentingannya. Maka disini gue mempertanyakan kepentingan siapa yang dibawa untuk pendidikan ?


Comments